Dare to Dream

Follow Your Dreams, For They Are The Hope Of The Future

08 February 2014

HIDUPKU ADA DI PUNDAKKU

Source Image : Google
Untuk pembahasan artikel kali ini dimana ada seseorang yang sedang memikul beban dipundaknya, ya seperti yang terlihat pada gambar diatas. Dari judulnya saja tidak menarik "Hidupku ada dipundakku". Pasti semuanya pada bertanya-tanya, maksudnya apa ? Nah, biar tidak penasaran diikuti terus pembahasan artikelnya, nanti juga diakhirnya mengerti maksud dari topik itu apa sebenarnya.
Hidupku ada di Pundakku, seperti itulah perumpamaan kosakata yang sering muncul dan terdengar oleh kita semua. Itu artinya (versi penulis) "kalau setiap beban yang ada ya kita pikul sendiri lah, dari topiknya saja sangat jelas : "Hidupku ada di Pundakku" dikatakan "dipundak-ku" bukan "dipundak-mu", Berarti ya pikul sendiri. Seperti itu perumpamaan sederhananya, kalau begitu maksud sebenarnya apa ? nah, sebelum penulis membahas ada baiknya penulis mohon maaf kalau salah karena ini menurut pandangan penulis sendiri, mohon petunjuknya kalau salah.

Jadi begini, makna dari topik pembahasan kali ini bahwa dikatakan hidup itu ada dipundaknya masing-masing, artinya : Di kehidupan ini, setiap beban atau ujian atau cobaan atau rintangan sesulit apapun, serumit apapun, sedetail apapun tetap harus dijalani diri sendiri atau diselesaikan dengan sendirinya tanpa mengeluh, tanpa keterpaksaan, apalagi sampai menyalahkan orang lain. 
Ya artinya, hidup ini mau sesulit apapun atau seberat apapun kita sendiri lah yang akan menghadapi dan menjalani semua itu, jadi semuanya ada pada diri kita sendiri bagaimana menyikapi semua itu, jangan sampai menyalahkan orang lain bahwa beban hidup ini karena kiriman atau pemberian atau warisan dari teman, sahabat atau orang lainnya. Jadi itu bukan ya, jadi ditekankan lagi setiap beban hidup yang ada atau muncul kita sendiri lah yang akan memikulnya menggunakan pundak sendiri.
Maka bersyukur dan terima kasih kalau selama hidup ini selalu banyak beban dan rintangannya, itu artinya bahwa Tuhan sangat-sangat mengasihi kita semua, karena tanpa diberikan semua cobaan, beban atau rintangan atau ujian semua itu kita tidak akan pernah merasakan dimasa-masa sulit dan berempati pada orang-orang lain yang mengalami kesulitan, dengan adanya semua itu, kita jadinya mengerti dan merasakan apa yang orang rasakan ketika dimasa-masa sulit seperti apa rasanya. Bukan kah begitu ?
Sehingga dengan adanya semua itu, membuat kita akan selalu merasa rendah hati karena kita akan pernah mengingat kembali bagaimana seandainya kalau kita sekarang berada diposisi mereka sekarang yang mengalami kesulitan dan lain-lainnya, dan membuat kita akan lebih banyak mensyukuri apapun yang kita miliki saat ini, karena ternyata ada orang yang lebih kurang beruntung daripada kita, bukan kah begitu ? bahkan, dengan adanya semua itu, salah satu tahapan pendewasaan diri, intropeksi diri, dalam membangun pondasi diri lebih tegar dan kuat. Itulah salah satu cara Tuhan membuat kita menjadi orang yang sukses, bukan dengan memberikan setetes sihir, sebutir berlian atau segunung emas.

Jadi, marilah kita jalan terus kedepan tidak peduli beban mau sesulit apapun seberat apapun semuanya ada dipundak kita sendiri untuk mengangkatnya dan membawanya, serta berusaha selalu bersyukur dan tersenyum tatkala dihadapkan dimasa-masa sulit agar tetap bisa melewatinya dengan singkat. Karena hidup ini semuanya ada dipundak kita masing-masing, tiada gunanya selalu mengeluh karena malah akan memperpanjang masa-masa sulit dan percuma juga kalau sampai menyalahkan orang lain, karena hidup kita adalah tanggungjawab kita sendiri. 

Seperti biasanya, setiap penghujung pembahasan artikel selalu diberikan kata kutipan singkat yang mencakup dari keseluruhan pembahasan yang ada. Adapun kata kutipannya seperti ini :

" Hidup ini tidak akan selalu terasa manis dijalani, adakalanya terasa pahit. Itulah kehidupan."

SETETES EMBUN DI PAGI HARI

Source Image : Google
Tatkala dikehidupan ini banyak sekali hal yang dapat membuat seseorang berubah seketika, dari baik menjadi buruk atau sebaliknya. Ibarat kata seperti tetes embun dipagi hari, akan dengan cepatnya hilang dan menghilang semua perlahan-lahan seiring munculnya sang mentari dihadapan kita untuk memberikan kehangatan ditubuh kita disepanjang hari. Mengingat embun dipagi hari, penulis selalu ingat sekali tatkala masih dikampung halaman, sang mentari yang belum seluruh menampakkan wajahnya dihadapan seluruh penjuru dunia. Kedua Orang Tua penulis sudah harus bersiap-siap untuk memulai aktivitasnya setiap hari yang dilakukannya. Sang Ayah sudah bersiap-siap untuk berangkat kesawah dengan sepanjang jalan masih dibasahi tetesan embun-embun air diujung-ujung rumput dan suasana yang masih tenang dan dingin, Sang Ayah dengan tatapan mata dan raut wajah yang bahagia melakukan setiap pekerjaannya demi memberikan yang terbaik. Sedangkan Sang Mama, dengan sabar dan bahagia menyiapkan seluruh persiapan sekolah untuk anak-anaknya, mulai dari menyiapkan nasi, lauk-pauk dan memasak air panas untuk anak-anaknya yang dapat digunakan apabila masih kedinginan untuk mandi air telaga yang dipagi hari masih terasa dingin. Kemudian, apabila sudah selesai Sang Ibu menuju kesetiap ruang kamar anak-anaknya untuk membangunkan satu per satu untuk persiapan mandi dan makan sebelum menuju ke sekolah masing-masing.

Hari demi hari dilewati, tidak terasa anak-anak dari Sang Ayah dan Sang Ibu semakin tumbuh dewasa dan dewasa. Kebahagiaan yang tidak dapat diungkapkan terukir diraut wajah Sang Ayah dan Sang Ibu setiap kali melihat anak-anaknya satu per satu tumbuh dewasa, tanpa peduli kondisi mereka sendiri, tanpa disadari hari demi hari kondisi fisik mereka sendiri semakin menurun dan tua seiring semakin tumbuh dewasa dan dewasa anaknya. Sang Ayah dan Sang Ibu dengan tiada hentinya mendoakan yang terbaik untuk semua anak-anaknya. Menaruhkan sejuta harapan yang lebih baik kepada semua anak-anaknya. Tiada pernah kering air mata Sang Ayah dan Sang Ibu berdoa dan menaruh harapan yang terbaik untuk anak-anaknya.

Penulis dengan kakak-kakak dan adiknya sangat bersyukur dan berterima kasih, tanpa Mereka (Sang Ayah dan Sang Ibu) tiada mereka hari ini. Dimanapun anak-anaknya sekarang berada tiada tanpa henti Sang Ayah dan Sang Ibu selalu mendoakan yang terbaik untuk anak-anaknya. Anak-anaknya tidak pernah merasa kesepian atau kesendirian dimanapun mereka berada sekarang, karena selalu ditemani doa orang tua mereka. Walaupun tidak dapat anak-anaknya lihat langsung, setidaknya anak-anaknya dapat merasakan kehadiran doa mereka dengan hati.

Hidup ini terlalu cepat berlalu, "Ibarat setetes embun diujung rumput dipagi hari segera lenyap menghilang tatkala sang mentari telah muncul". Seperti itulah kehidupan ini, tanpa disadari cepat sekali berlalu dan tidak dapat kita mengulangi kembali ke masa-masa itu. Tatkala muncul pikiran dibenak penulis ingin sekali mengulangi waktu-waktu yang terburuk dan memperbaiki semua itu, tetapi setelah disadari bahwa ternyata semua itu tidak dapat dilakukan lagi. Kadangkala, muncullah segenggam kekecewaan dan penyesalan dari penulis dengan apa yang pernah dilakukan dimasa lampau. Maka sudah saatnya, untuk kita pahami hidup ini baik dengan melakukan hal sebaik-sebaik mungkin dan memberikan yang terbaik agar hidup ini tidak terasa singkat berlalunya.


Seperti biasanya, diakhir penghujung pembahasan artikel selalu ada sebuah kata kutipan singkat. Adapun kutipannya seperti ini :

" Kehidupan manusia dapat diibaratkan setetes embun pagi diujung rumput, akan lenyap tak berbekas tatkala sang mentari telah terbit. Maka sudah saatnya, pahamilah hidup ini dengan melakukan dan memberikan yang terbaik agar hidup ini tidak terasa singkat."