08 February 2014

SETETES EMBUN DI PAGI HARI

Source Image : Google
Tatkala dikehidupan ini banyak sekali hal yang dapat membuat seseorang berubah seketika, dari baik menjadi buruk atau sebaliknya. Ibarat kata seperti tetes embun dipagi hari, akan dengan cepatnya hilang dan menghilang semua perlahan-lahan seiring munculnya sang mentari dihadapan kita untuk memberikan kehangatan ditubuh kita disepanjang hari. Mengingat embun dipagi hari, penulis selalu ingat sekali tatkala masih dikampung halaman, sang mentari yang belum seluruh menampakkan wajahnya dihadapan seluruh penjuru dunia. Kedua Orang Tua penulis sudah harus bersiap-siap untuk memulai aktivitasnya setiap hari yang dilakukannya. Sang Ayah sudah bersiap-siap untuk berangkat kesawah dengan sepanjang jalan masih dibasahi tetesan embun-embun air diujung-ujung rumput dan suasana yang masih tenang dan dingin, Sang Ayah dengan tatapan mata dan raut wajah yang bahagia melakukan setiap pekerjaannya demi memberikan yang terbaik. Sedangkan Sang Mama, dengan sabar dan bahagia menyiapkan seluruh persiapan sekolah untuk anak-anaknya, mulai dari menyiapkan nasi, lauk-pauk dan memasak air panas untuk anak-anaknya yang dapat digunakan apabila masih kedinginan untuk mandi air telaga yang dipagi hari masih terasa dingin. Kemudian, apabila sudah selesai Sang Ibu menuju kesetiap ruang kamar anak-anaknya untuk membangunkan satu per satu untuk persiapan mandi dan makan sebelum menuju ke sekolah masing-masing.

Hari demi hari dilewati, tidak terasa anak-anak dari Sang Ayah dan Sang Ibu semakin tumbuh dewasa dan dewasa. Kebahagiaan yang tidak dapat diungkapkan terukir diraut wajah Sang Ayah dan Sang Ibu setiap kali melihat anak-anaknya satu per satu tumbuh dewasa, tanpa peduli kondisi mereka sendiri, tanpa disadari hari demi hari kondisi fisik mereka sendiri semakin menurun dan tua seiring semakin tumbuh dewasa dan dewasa anaknya. Sang Ayah dan Sang Ibu dengan tiada hentinya mendoakan yang terbaik untuk semua anak-anaknya. Menaruhkan sejuta harapan yang lebih baik kepada semua anak-anaknya. Tiada pernah kering air mata Sang Ayah dan Sang Ibu berdoa dan menaruh harapan yang terbaik untuk anak-anaknya.

Penulis dengan kakak-kakak dan adiknya sangat bersyukur dan berterima kasih, tanpa Mereka (Sang Ayah dan Sang Ibu) tiada mereka hari ini. Dimanapun anak-anaknya sekarang berada tiada tanpa henti Sang Ayah dan Sang Ibu selalu mendoakan yang terbaik untuk anak-anaknya. Anak-anaknya tidak pernah merasa kesepian atau kesendirian dimanapun mereka berada sekarang, karena selalu ditemani doa orang tua mereka. Walaupun tidak dapat anak-anaknya lihat langsung, setidaknya anak-anaknya dapat merasakan kehadiran doa mereka dengan hati.

Hidup ini terlalu cepat berlalu, "Ibarat setetes embun diujung rumput dipagi hari segera lenyap menghilang tatkala sang mentari telah muncul". Seperti itulah kehidupan ini, tanpa disadari cepat sekali berlalu dan tidak dapat kita mengulangi kembali ke masa-masa itu. Tatkala muncul pikiran dibenak penulis ingin sekali mengulangi waktu-waktu yang terburuk dan memperbaiki semua itu, tetapi setelah disadari bahwa ternyata semua itu tidak dapat dilakukan lagi. Kadangkala, muncullah segenggam kekecewaan dan penyesalan dari penulis dengan apa yang pernah dilakukan dimasa lampau. Maka sudah saatnya, untuk kita pahami hidup ini baik dengan melakukan hal sebaik-sebaik mungkin dan memberikan yang terbaik agar hidup ini tidak terasa singkat berlalunya.


Seperti biasanya, diakhir penghujung pembahasan artikel selalu ada sebuah kata kutipan singkat. Adapun kutipannya seperti ini :

" Kehidupan manusia dapat diibaratkan setetes embun pagi diujung rumput, akan lenyap tak berbekas tatkala sang mentari telah terbit. Maka sudah saatnya, pahamilah hidup ini dengan melakukan dan memberikan yang terbaik agar hidup ini tidak terasa singkat."


0 komentar:

Post a Comment