Dare to Dream

Follow Your Dreams, For They Are The Hope Of The Future

18 July 2014

DOGMA YANG KELIRU

Source Image : Google
Kali ini penulis ingin berbagi cerita saja, terkait sebuah pernyataan dari seorang teman yang mengatakan "Kenapa percaya sama kamu, percaya itu sama Tuhan".  Jujur saja, penulis mendengar pernyataan itu hanya bisa tersenyum dan dalam hati berkata "Hahaha... sebuah dogma yang keliru dianut". Oke deh, tanpa panjang lebar penulis langsung memberikan sebuah pandangan, karena kalaupun penulis menjelaskan panjang lebar didepan orangnya percuma karena itu "tidak mempercayai sesama manusia". Sebelum pembahasan yang lebih khusus, maka penulis mau memberikan pandangan secara umum dulu. Ada yang mengatakan hubungan dalam dunia ini ada dua, yaitu Vertikal dan Horizontal. Vertikal berarti komunikasi dengan Tuhan, sedangkan Horizontal berarti komunikasi sesama manusia itu sendiri. Klarifikasi pertama dari penulis, kalau dari dogma yang dianutnya itu sudah keliru dari hubungan didunia ini vertikal dan horizontal, ada kesenjangan dimana letak komunikasi sesama manusianya, berarti kalau tidak mempercayai manusia gimana mau komunikasi, Ayooooo ? ya, contoh sederhananya, sesama manusia mengingatkan : Jangan menyebrang jalan kalau ada kendaraan melintas ya ? atau Jangan melompat dari lantai 3 ya ? dan banyak sekali. Andaikan dengan pernyataanya dengan penuh percaya diri mengatakan : Saya tidak percaya kamu. Apa yang terjadi pada orang itu ? Ayoooo, maka orang itu akan celaka, artinya apa : Terkadang kebenaran yang dari Tuhan, tetapi semuanya itu dipercayakan manusia untuk menyampaikan kebenaran itu ke sesama manusianya. Ayoooo, Tuhan saja mempercayai umat manusianya mengapa kamu tidak ?, seperti contoh : Tuhan menitipkan kita kepada orang tua kita, menitipkan firman dan kebenaran dalam bentuk Al-Quran, AlKitab yang akan disampaikan kebenaran Tuhan itu oleh Ustad atau Pendeta kepada sesama umatnya. Ayooooo, berarti kalau tidak mempercayai manusia gimana mau menerima sebuah kebenaran itu. Ustad dan Pendeta juga manusia lhooo.

Ayolah, berpikir yang cerdas dan terbuka, janganlah (mohon maaf ya) terlalu religius jadinya salah menafsirkan kebenaran yang sudah ada, malah buat dogma tandingan yang justru keliru pemahamannya. Artinya apa : Memang tidak bisa dipungkiri kita disini semua mempercayai Tuhan, dan semua kebenaran itu hanya berasal dari Tuhan itu sendiri. selain itu, kita juga mempercayai sesama manusia untuk tetap bisa bersosialisasi dan bertahan hidup di dunia ini, saling mengingatkan, saling membenarkan, saling memahami. Penulis tambahin deh, gimana mau berumah tangga kalau tidak ada rasa percaya dalam keluarga itu ? Ayoooo, open your mind. Gimana mau memiliki sebuah hubungan kalau tidak ada rasa saling mempercayai. Ayoooo... Jawab sendiri. Terlalu munafik mengatakan "Kenapa percaya kamu, percaya itu sama Tuhan". Padahal lhooo, kita hidup ini juga karena kita saling mempercayai manusia, ya contoh sederhananya deh : Kita makan nasi kan, nasi itu berasal dari mana ? dari padi, Oke, padi itu dari mana ? ya dari Tuhan, tetapi padi itu Tuhan anugerahkan dan percayakan kepada umat manusia untuk mengelola dan menanamnya didunia ini. Sekali lagi, Tuhan aja mempercayai umat manusianya, masa kamu tidak ? kalau dengan doktrin yang anut itu, berarti jangan makan nasi dong ? kan tidak percaya manusia katanya. Jangan makan ikan dong karena juga hasil tangkap dan kelola oleh manusia, tetapi sekali lagi semua itu memang Anugerah dari Tuhan, dan Tuhan menganugerahkan dan mempercayai manusia untuk mengambil, mengelola dan menikmati semua hasil ciptaan Tuhan itu. 

Oke deh, disini yang ingin penulis menggarisbawahi adalah : Memang tidak bisa kita pungkiri, semua kebenaran itu hanya dari Tuhan. Ya, jadi benar kalau hanya mempercayai Tuhan. Coba deh, diingat semua kebenaran itu didapat mendengar dari Tuhan sendiri, atau disampaikan oleh umat manusianya sendirinya. Artinya kalau tidak ada rasa percaya sesama manusia, gimana mau terima semua kebenaran dari Tuhan yang ada, karena kebenaran Tuhan itu disampaikan manusia sendiri. Itulah kenapa ada komunikasi vertikal dan horizontal. Jadi tetap harus keseimbangan kedua komunikasi itu. Sebuah persahabatan, kelompok itu terbentuk karena rasa percaya sesama anggotanya. Ya gimana ada terbentuk sebuah hubungan kalau tidak ada rasa saling percaya. Membeli makanan di restoran, food court  atau kaki lima dan lainnya itu karena kita mempercayai apa yang kita beli itu halal dan baik buat tubuh kita berarti kita percaya sama orang yang masak itu, artinya tidak ada mengandung racun yang akan menghabisi hidup kita. Kalau tidak mempercayai manusia di dunia ini, gimana mau bertahan hidup ? karena semua anugerah Tuhan diberikan kepada umat manusianya. Ayooo, kalau tidak percaya manusia : jangan makan nasi, sayur, ikan dan lain sebagainya, karena yang menanam dan kelola dan masak itu manusia lhoo, bukan Tuhan. Tapi memang benar semuanya Anugerah itu dari Tuhan. 

Biar lebih gregetan, penulis tambahkan beberapa hal lagi deh, kalau tidak mempercayai manusia berarti semuanya harus dikelola sendiri lhoo, mulai mau makan nasi, tanam padi sendiri, olah sendiri, masak sendiri, kalau mau makan sayur, tanam sayur sendiri, masak sendiri dan lain sebagainya. Sudah bisa terima belum : "Kita bisa bertahan hidup didunia ini karena memiliki rasa saling mempercayai satu sama lainnya". Kalau tidak percaya manusia, jangan bersekolah lhoooo, karena guru juga manusia. Artinya apa terlalu munafik dan fanatik mengatakan tidak percaya manusia. Padahal manusia itu makhluk sosial lhoooo. Penulis kira cukup deh pandangan dari penulis, disini sekali lagi penulis tekankan : "Jika merasa tidak bisa menerima, diabaikan. Karena tidak ada paksaan harus menerima semua itu". Semoga bisa direnungkan sebelum tidur deh, coba deh di ulang kaji mulai dari kecil sampai hari ini, kita bisa seperti ini karena juga bantuan, kepercayaan dari sesama manusia. Kebenaran memang hanya milik Tuhan, tapi Tuhan mempercayai kebenaran itu kepada umatnya sebagai perantara untuk menyampaikan kebenaran itu kepada sesama manusianya.

Untuk penutup, penulis sekalian mau bahas pernyataan yang tidak kalah seru deh dari teman penulis satu ini, ini pernyataan muncul dari teman penulis masih berkaitan dengan pernyataan sebelumnya, teman penulis mengatakan seperti ini : "Mama saya kadang juga membohongi saya". Penulis hanya saran saja sih : "Orang tua kita tidak pernah membohongi kita, Mereka Hanyalah Tidak Berterus Terang Kepada Kita". Semua yang dilakukan itu demi kebaikan dan kebahagiaan anak-anak mereka, walaupun mereka harus mengorbankan semua yang dimiliki bahkan hidup mereka sendiri demi apapun keinginan dan kebahagiaan anak mereka. Ya, sekalian deh penulis berbagi cerita. Penulis itu punya orang tua yang luar biasa, karena dari keluarga yang sangat-sangat sederhana. Demi anak-anak mereka, mama penulis rela menggadaikan semua perhiasan dan lain sebagainya untuk kelangsungan biaya hidup dan biaya sekolah penulis lima bersaudara waktu itu. Tetapi ketika penulis tanya : dimana perhiasan mama ? mama jawab : masih ada koq nak, mama simpan baik-baik. Padahal penulis lima bersaudara tahu kalau mama itu sudah menggadaikan semua itu demi biaya hidup dan biaya sekolah penulis lima bersaudara. Apakah itu dikatakan berbohong, mereka hanya tidak berterus terang, Tujuan orang tua kita itu paling mulia didunia ini : mereka hanya ingin anak mereka bisa tersenyum dan bahagia, apapun akan dilakukan mereka demi itu. Pantaskah mengatakan Orang tua kita berbohong ? Apapun yang orang tua kita lakukan demi kebahagiaan dan kebaikan anak-anaknya. Pernah orang tua mencelakakan anaknya, pernah menyakiti anaknya. Tidak pernah, justru kita sebagai anak lah yang menyakiti mereka, merebut kebahagiaan mereka demi keegoisan kebahagiaan kita semata.

Untuk terakhir, karena penulis dari keluarga yang sederhana, setiap makan mama penulis selalu memberikan daging ikan kepada anak-anaknya, dan mengambil tulang yang masih menyisakan sedikit daging atau kepala ikan untuk dimakan, Kalaupun ditanya kenapa mama tidak makan daging ikannya saja. Mama cuma jawab : Tadi mama sudah makan nak, jadi sekarang giliran kalian yang makan. Padahal penulis lima bersaudara tahu kalau mama itu belum makan daging sama sekali. Apakah tega mengatakan itu orang tua kita berbohong ? semua yang mereka sembunyikan demi kebahagiaan dan berikan yang terbaik kepada anak-anak mereka. Orang tua kita tidak pernah berbohong hanya tidak berterus terang, semua itu hanya ingin kebahagiaan kita, hanya itu. Tiada yang terindah dalam dunia ini, selain memiliki orang tua yang lengkap. Tiada harta yang ternilai, selain memiliki Orang tua. Orang tua kitalah harta yang tidak ternilai didunia ini. Orangtua kita adalah harta kita sebenarnya didunia ini. Sangat bersyukur kita yang memiliki oarngtua lengkap, jadi sudah saatnya, waktunya, kita membahagiakan mereka.